Numpang kost
Udah 3 hari
belakangan ini Cynthia numpang menginap di kost-an ku yang kecil. Awalnya saya
agak khawatir dengan perubahan suasana ini. Cynthia menumpang sementara di sini,
padahal saya bingung “gimana perasaan cewe gue”. Untuk mencari penegasan saya
tatap wajah muda Cynthia yang cantik dan lucu. Cynthia membalas tatapan saya
tanpa berkedip. Sebersit saya membaca kegenitan di dalamnya, sayapun menyerah..
Hari pertama.
Cynthia nampak begitu kalem dan sopan—ketika itu si Avi (cw gue)juga ada—dan
dia oke-oke aja setelah mendapat penjelasan logis. Avi duduk di sofa di depan
TV, dan saya duduk di bangku di depan meja komputer. Cynthia nampak menjaga
jarak dengan saya, dia duduk tidak bergeming di samping Avi sambil menikmati
soap opera dan MTV (Music Television). Saya mencoba menggoda Cynthia. Tapi
female satu ini seperti batu, Avi dan dia menatap tanpa berkedip tabung kaca
itu seperti orang dalam pengaruh hipnotis.
Hari pertama agak
sorean.
Problem mulai muncul ketika Avi pulang meninggalkan kost-an, membiarkan saya
dan Cynthia berdua di kamar kost adalah hal yang janggal, saya tidak tahu harus
bersikap bagaimana, saya grogi dan nerveous, apalagi begitu mobil Avi berlalu,
Cynthia langsung mendekati saya dengan penuh roman.
Saya duduk di sofa
dengan perasaan tidak nyaman. Cynthia mendekati saya dan ikut duduk di samping.
Kaki saya yang terjulur ke atas coffe table di sentuhnya dengan halus, pinggang
saya disenderinya dengan santai, merasa agak terganggu, saya berdiri dan pindah
duduk di depan komputer lagi.
Cynthia mengikuti.
Saya berpura-pura sibuk membuka internet, tapi Cynthia berdiri di sana menatap
saya dengan pandangan yang sendu dan mengundang.
Saya tanyakan, “Apa
kamu belum makan siang?”. Tapi Cynthia tetap terdiam seakan dia meminta sesuatu
yang lain. Saya termangu tidak mengerti apa maksudnya.
Tapi karena saya ini
termasuk laki-laki yang tahan godaan, jelas saya tidak mau berpikiran yang
bukan-bukan. Saya cuekin Cynthia seharian.
Hari kedua.
Cynthia makin liar menjadi-jadi, Cynthia menggoda saya habis-habisan. Tubuhnya
yang langsing selalu dicoba ditempelkan ke badan saya secara kurang ajar.
Walaupun Cynthia cantik, dan suaranya lembut menarik, saya tidak mau jatuh
tertarik. Ketika saya bentak, “Cynthia please.. Jangan ganggu saya”.
Dia tetap saja
berkepala batu. Bahkan ketika saya duduk di sofa kembali, Cynthia mencoba
membaringkan tubuhnya di pangkuan. Saya marah dan berdiri, kemudian saya
berjalan dan membaringkan tubuh di kamar. Angin dari fan yang bertiup dingin
dan matahari yang masih nampak garang siang ini membuat saya jatuh tertidur 5
menit kemudian.
Samar-samar saya
merasa ada tubuh berbaringan di samping kanan. Tubuh hangatnya yang halus
menyentuh lengan saya secara lembut dan mengundang. Sejenak saya merasa,
barangkali si Avi balik lagi untuk mengambil barang yang biasanya tertinggal,
tapi lama-lama saya menyadari tubuh hangat ini pasti bukan Avi. Saya terkejut
lalu bangkit secara tiba-tiba. Kali ini saya benar-benar murka melihat Cynthia
sedang berbaringan secara santai dan erotis di samping sana. Padahal sebelum
ada perkawinan, saya berpikiran untuk tidak tidur dengan mahluk bergender
perempuan. Itulah sebabnya saya bentak Cynthia untuk jangan berbuat kurang ajar,
karena sudah tidak tahan saya berdiri dan membuka pintu kost-an.
“Keluar…!”. Teriak
saya tidak sabar.
Wajah Cynthia nampak
lesu dan sedih. Dua detik dia termenung untuk kemudian berjalan perlahan. Saya
tidak lagi ingat akan segala bujuk rayunya, persoalan ini akan semakin membesar
jika saya membiarkan Cynthia lebih lama menetap di kost-an ini.
Langkah Cynthia yang
seksi berhenti 10 meter dari pintu apartemen.
Karena saya takut
dia akan mengubah niat untuk berbalik kembali ke sini, saya berteriak, “Dont you
ever think about it…!”
Cynthia menatap saya
secara kurang ajar, lalu membalas teriakan dengan keras, “Meowwwngggg…!!!
Meowwwwwnggg…!!!”
Kucing jalanan itu akhirnya kembali ke asalnya…